KARUNIA TIADA TARA

 KARUNIA TIADA TARA 


Setengah enthong nasi, bersanding telor dadar, menghiasi panorama meja makan kesayangan di sabtu pagi ceria, membuat berbinar mata, penetram sukma, pendingin hati, atas karunia Illahi tiada henti datang disetiap saat dan setiap hari. 

Segelas air putih dari mata air pegunungan Kemuning yang direbus, ikut menemani asyik dan nikmatnya udara pagi, bersanding buah pisang raja yang ranum asli dari pohon, menambah gairah senyum indah, bercahaya cerah nan merekah, berbalut aura berkah. 

Lantunan basmalah mengawali ayunan sendok bermuatan nasi, telor dadar, menggoyang mulut bak irama lagu pop mengalun syahdu, lemah gemulai tenang tapi pasti hingga kunyahan 33 kali, hanyut berganti posisi bergeser dengan rapi, bak alunan melodi menggetar terasa dihati. 

Silih berganti antrian suap demi suap berasa sedap dan mantab, terasa khas  sajian diri bertabur resep koki pelengkap menu sarapan pagi. Goyangan mulut mengajak tidak berhenti, ingin selalu menari-nari, namun sabda Nabi selalu mengiringi hingga tarian harus berhenti. 

Tatapan mata menghampiri indah dan senyumnya sendok serta piring, barusan berisi sekejap isi berpindah posisi, hingga piring kosong lagi. Perpindahan isi atas kuasa Illahi Robbi, menabur, menghantar, memproses, memindahkan, mengubah tekstur semua atas kehendakNya. 

Betapa Agung dan dasyatNya, mengatur, menata, membagi, secara rinci, detail dan adil.Hingga alunan firmanNya menancap menghujam dalam dilubuk hati sanubari “Fabiayyi ala irob bikuma tukadziban”.  Nikmat mana lagi yang akan kau dustakan. Allohu Akbar walillahil hamdu. 

Tiada pantas dan layak jika kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, walau hasrat dan keinginan hati tak ingin dibatasi, semua yang ada dimuka bumi kalau bisa dikuasai. Ini suara nafsu menari-nari  seakan hidup seribu tahun lagi namun lupa semua akan jumpa mati. 

Kaki beranjak seraya membawa piring menuju tempat cucian, kran mengalir, mengguyur mengiringi tarian gosokan lembut busa berlumur sabun cemerlang, membuat sapuan bersih mengkilap kembali warna asli garis bunga berhias cantik di piring. 

Luapan rasa syukur bisa melangkahkan kaki, menggerakkan tangan di ejowantahkan dalam melengkapi kebutuhan diri, tiada memanjakan serta membikin malas diri dalam kerja nyata mencuci gelas, piring, sendok yang telah dipakai untuk sarapan pagi. 

Kalau bisa mengapa tidak, kalua mampu mengapa malu, kalua tahu mengapa ragu. Jangan kau sirnakan kemampuanmu, jangan kau lenyapkan kebisaanmu, jangan kau tutupi kekuatanmu karena dengan lenyap, sirna, menutup adalah tanda menghilangkan jatidiri manusia seutuhnya. 

Selagi kita masih bisa melakukan, lakukanlah bisa jadi Alloh melihatnya, bagaimana kita diberi sesuatu kepandaian/skill dimanfaatkan atau tidak, diberdayakan atau tidak, jika digunakan pertanda syukur nikmat, jika mengabaikan, meremehkan bisa terkategori kufur nikmat. 

Tataplah nun jauh disana ada yang diambil setelah diberi kekuatan berjalan, ada yang diambil setelah mampu menggerakkan tangan, oleh karenanya selagi masih diberi kekuatan untuk melangkahkan kaki, mengggerakkan tangan manfaatkan sebaik-baiknya, tanda kita mensyukuri atas nikmat yang diberikan kepada diri kita hingga tergolong orang yang syukur nikmat. 

Hanya orang yang mau dan mampu merasa dengan hati ikhlas, mengharap dan menerima karunia Alloh swt, tidak selalu tamak dan kurang atas yg dimilikinya, dan tak bepangku tangan atas tebaran nikmat dihadapannya. 

Sesombong-sombong manusia yang tidak mau berdo’a meminta kepadaNya, dan sebodoh-bodoh manuusia yang tidak mau menjemput karunia Alloh yang ada didepan mata dan tidak mau bersyukur kepada Alloh atas karunia Nikmat yang diberikan kepadanya. 

Sragen, 25 September 2021

Komentar

  1. Setengah enthong nasi pasti telah cukup menghilangkan lapar, apalagi jika suap demi suap diiringi rasa syukur yang mendalam. Lidah bergoyang riang menikmati sensasi rasa akan sangat bahagia ketika tenggorokan bersiap menelan makanan untuk diantarkan ke lambung yang tak sabar untuk mengurai sarinya.
    Sungguh Allah Yang Maha Kuasa telah menyiapkan segalanya. Lantas masih pantaskan kita untuk tidak mensyukurinya......?????

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

DASYATNYA HUJAN MEMGGELORA HATI

SOTO KU, SOTO MU, SOTO KITA.

Menyibak Tabir Rona kehidupan